biar ga sia2

hmm…di blog ini aku masukin hasil praktikum terapiku…dari pada hanya kesimpen di laptop ga ada yang baca,memding aku post aja  ^^

selamat membaca…semoga bermanfaat..

Comments (2)

Rhinitis Alergi

Rhinitis adalah inflamasi pada membran mukosa di hidung (Dipiro, 2005). Berdasarkan penyebabnya, dibagi menjadi 2, yaitu rhinitis alergi karena allergen dan rhinitis nonalergi yang disebabkan faktor-faktor pemicu seperti obat(rhinitis medicamentosa), atau karena abnormalitas structural (rhinitis structural). Rhinitis alergi muncul ketika membran mukosa terpapar oleh allergen sehingga memberikan respon yang diperantarai oleh immunoglobulin E (IgE). Respon ini memacu pelepasan mediator inflamasi. Rhinitis alergi dikarakteristik oleh bersin-bersin, hidung berair, nasal kongesti, mata merah, berair, dan gatal (Plaut, 2005). Biasanya rhinitis alergi terjadi pada individu yang sensitif.

Berdasarkan waktunya, rhinitis alergi dapat digolongkan menjadi :

- Rhinitis seasonal yang biasanya muncul pada waktu-waktu tertentu yang sudah dapat diprediksi. Biasanya terjadi pada musim semi. Alergen yang terlibat dapat berupa serbuk sari, atau rerumputan.

- Rhinitis parrenial disebabkan bukan karena musim tertentu. Biasanya disebabkan oleh allergen berupa dust mites, dander binatang, jamur. Rhinitis tipe ini biasanya merupakan gejala kronis. (Dipiro, 2005)

Seseorang dapat mengalami rhinitis kombinasi antara dua jenis tersebut. Masih ada satu lagi jenis rhinitis alergi, yaitu :

- Rhinitis alergi occupational

Rhinitis yang terkait dengan pekerjaan. Paparan allergen didapat di tempat bekerja. Biasanya dialami oleh orang yang bekerja dekat dengan binatang. (Sheikh, 2008)

Respon Imun

Reaksi alergi di hidung dimediasi oleh respon antigen-antibody, allergen berinteraksi dengan IgE yang terikat sel mast dan basofil. Selama inhalasi, allergen yang dibawa udara memasuki hidung dan diproses oleh limfosit, yang memproduksi antigen spesifik IgE. Pada paparan pertama, biasanya belum terjadi reaksi alergi. Namun pada paparan berikutnya IgE yang berikatan dengan sel mast berinteraksi dengan allergen kemudian memacu pelepasan mediator inflamasi. Reaksi ini dapat berlangsung lambat maupun cepat. Mediator inflamasi yang terlibat dapat berupa histamine, lerukotrien, prostaglandin, tryptase, dan kinin. (Dipiro, 2005)

Terapi

Terapi rhinitis alergi terbagi dalam tiga pendekatan, meliputi penghindaran terhadap allergen, farmakoterapi untuk pencegahan dan penanganan gejala, imunoterapi spesifik. Penghindaran terhadap allergen merupakan cara yang paling memberikan hasil. Namun cara ini juga sulit dilakukan. Cara yang sering digunakan untuk menghindari allergen antara lain mengatur kelembaban ruangan untuk mencegah pertumbuhan jamur, menjauhkan hewan berbulu dari pasien alergi, namun hal ini sering tidak dipatuhi terutama oleh pecinta binatang. Membersihkan kasur secara rutin juga dapat dilakukan.

Sedangkan terapi farmakologinya didasarkan pada gejala yang terjadi. Antihistamin dan dekongestan merupakan golongan obat yang sering dipakai untuk menangani rhinitis alergi. Pada beberapa keadaan, golongan obat-obat ini dapat diberikan tanpa resep, namun pasien juga memerlukan konseling untuk menentukan obat yang tepat.

- Antihistamin

Mekanisme kerja obat golongan ini adalah berikatan dengan reseptor H1 tanpa mengaktivasinya, mencegah ikatan dan aksi histamine. Antihistamin generasi baru juga dapat berefek pada respon inflamasi seperti pelepasan histamine dan influx sel inflamasi.

Antihistamin yang sering digunakan adalah antihistamin oral. Antihistamin oral dibagi menjadi dua yaitu generasi pertama (nonselektif) dikenal juga sebagai antihistamin sedatif serta generasi kedua (selektif) dikenal juga sebagai antihistamin nonsedatif.

Efek sedative antihistamin sangat cocok digunakan untuk pasien yang mengalami gangguan tidur karena rhinitis alergi yang dideritanya. Selain itu efek samping yang biasa ditimbulkan oleh obat golongan antihistamin adalah efek antikolinergik seperti mulut kering, susah buang air kecil dan konstipasi. Penggunaan obat ini perlu diperhatikan untuk pasien yang mengalami kenaikan tekanan intraokuler, hipertiroidisme, dan penyakit kardiovaskular.

Antihistamin sangat efektif bila digunakan 1 sampai 2 jam sebelum terpapar allergen. Penggunaan antihistamin harus selalu diperhatikan terutama mengenai efek sampingnya. Antihistamin generasi kedua memang memberikan efek sedative yang sangat kecil namun secara ekonomi lebih mahal.

- Dekongestan

Dekongestan topical dan sistemik merupakan simpatomimetik agen yang beraksi pada reseptor adrenergic pada mukosa nasal, memproduksi vasokonstriksi. Topikal dekongestan biasanya digunakan melalui sediaan tetes atau spray. Penggunaan dekongestan jenis ini hanya sedikit atau sama sekali tidak diabsorbsi secara sistemik (Dipiro, 2005). Penggunaan obat ini dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan rhinitis medikamentosa (rhinitis karena penggunaan obat-obatan). Selain itu efek samping yang dapat ditimbulkan topical dekongestan antara lain rasa terbakar, bersin, dan kering pada mukosa hidung. Untuk itu penggunaan obat ini memerlukan konseling bagi pasien.

Sistemik dekongestan onsetnya tidak secepat dekongestan topical. Namun durasinya biasanya bisa lebih panjang. Agen yang biasa digunakan adalah pseudoefedrin. Pseudoefedrin dapat menyebabkan stimulasi sistem saraf pusat walaupun digunakan pada dosis terapinya (Dipiro, 2005). Obat ini harus hati-hati digunakan untuk pasien-pasien tertentu seperti penderita hipertensi. Saat ini telah ada produk kombinasi antara antihistamin dan dekongestan. Kombinasi ini rasional karena mekanismenya berbeda.

- Nasal Steroid

Merupakan obat pilihan untuk rhinitis tipe perennial, dan dapat digunakan untuk rhinitis seasonal. Nasal steroid diketahui memiliki efek samping yang sedikit.

Obat yang biasa digunakan lainnya antara lain sodium kromolin, dan ipatropium bromida.

Penanganan Rhinitis alergi yang terakhir adalah dengan imunoterapi. Terapi ini disebut juga sebagai terapi desensitisasi. IMunoterapi merupakan proses yang panjang dan bertahap dengan cara menginjeksikan antigen dengan dosis yang ditingkatkan. Imunoterapi memiliki biaya yang mahal serta risiko yang besar, serta memerlukan komitmen yang besar dari pasien.

Leave a Comment

kuliner maknyuusss…

Selama hampir empat tahun aku kuliah di jogja, sering kali kuhabiskan waktu luang untuk berburu tempat makan enak (dan murah) di kota ini. Entah mengapa hal ini yang kupilih di antara kegiatan-kegiatan lain. Mungkin karena waktu sibukku dihabiskan dengan kuliah, praktikum, dan membuat laporan yang bisa membuat fisik dan pikiranku melemah.

Ada pendapat dari seorang teman, ia bilang ketika manusia dalam keadaan kenyang, pikirannya akan menjadi lebih tenang. Bisa saja opini inilah yang mendasari perburuan kulinerku. Disini akan ku bagikan info mengenai tempat-tempat maknyuss tersebut. Tapi maaf belum semua tempat enak bisa kutulis di sini mengingat kemauanku menulis yang fluktuatif.

Pertama, karena aku suka makan mi ada beberapa tempat yang wajib dikunjungi. Ada mi ayam bangka, letaknya di daerah sagan. Entah apa yang membuatnya enak, tapi lama tak ke sana pasti membuatku kangen untuk kembali. Tempat makan mi yang lain adalah mi ramen chef doni. Letaknya di daerah jl.kaliurang (jakal) km 10. Porsinya gedhe banget. Dijamin kalian akan pulang kekenyangan. Chef doni orangnya ramah walaupun awalnya terlihat pendiam, namun ia tak segan berbincang panjang lebar ketika kutanya bedanya warung ramen dan sushi. Ia memutus pembicaraan hanya ketika ada pelanggan lain yang datang. Di samping mi nya yang enak, kalian akan disambut oleh keramahan si tukang masaknya. Tapi hati-hati, anak chef doni yang paling kecil suka iseng, hehehe.

ramen

Mi yang tak kalah enaknya adalah mi ayam. Di dekat kampus ada beberapa warung mi ayam yang wajib dicoba. Mi ayam di jakal km 4,5 di dekat artha. Porsi mi ayam di sini sangat pas dan rasanya juga enak. Lalu ada mi ayam di blok F sendowo. Yang membuatnya special, mungkin karena porsinya lumayan banyak. Lalu ada mi ayam depan apotek sebelah talenta sendowo. Selain itu, ada mi jawa yang menurutku sampai saat ini belum ada yang mengalahkan enaknnya. Warung mi jawa ini tak bernama dan sayangnya letaknya sangat jauh dari kosku. Warung ini ada di dekat candi prambanan. Waktu KKN, selama 2 bulan, tak bosan-bosan aku mampir ke warung ini. Kangen bisa makan di sana lagi.

Batagor dan siomay merupakan makanan yang menjadi target perburuanku selanjutnya. Ada siomay telkom dekat sma3. Siomay di sini tengirinya kerasa banget, rasanya ga cuma aci. Batagor depan D3 elektro juga enak, dan kalau malam batagor yang lumayan enak ada di depan kopma UGM. Ada juga siomay yang agak unik, siomay rasa cumi dan udang di ringroad deket kentungan (lupa namanya).

Makanan berikutnya adalah nasi goreng (nasgor). Tapi makanan ini biasa ada saat malam hari. Nasgor sebelah mandiri adalah salah satu faforitku. Dalam keadaan dingin pun, nasi goreng di sini tetap enak. Tapi jangan salah, di sebelah mandiri banyak orang berjualan nasi goreng. Nasgor yang ku maksud adalah yang paling dekat dengan jalan raya. Sudah banyak yang keliru…Ada lagi nasgor depan UNY, porsinya pas banget (buat cewe :) Terus nasgor kambing warung biru sendowo paling mantap buat naikin tekanan darah, daging kambingnya banyak banget, tapi harga tetap terjangkau. Ga akan rugi beli nasgor kambing di sini. Selain itu, waktu awal kuliah aku pernah di ajak sepupuku makan nasgor bakar. Rasanya lumayan enak, tapi sayangnya aku lupa nama dan tempatnya (mending ga usah diomongin ya…).

Saat pagi dan siang, mungkin agak susah menemukan makanan-makanan yang kusebut di atas. Biasanya aku makan masi rames. Tidak semua nasi rames dekat kos dan kampus dijual dengan harga murah. Makanya di sini aku mau sedikit memberi bocoran tempat-tempat makan yang murah dan enak. Pertama warung saerah yang letaknya di pogung dekat teknik (anak-anak UGM pasti sudah familier dengan warung ini). Kemudian ada warung bu siti. Yang ini letaknya di dekat asrama ratnaningsih UGM. Dengan 3rb rupiah saja kamu sudah bisa makan dengan lauk ayam. Lalu ada warungnya mbak sar dekat kos lamaku, di daerah selokan. Di warung mbak sar, harganya sangat terjangkau untuk mahasiswa. Yang terakhir ada warung bu doning di sendowo. Tempatnya bu doning ini paling jadi faforitku, walaupun lauk dan sayurnya agak monoton. Namun bu doningnya yang ramah, tempatnya yang bersih dan nyamanlah yang membuatku betah.

(Kuliner berikutnya….bersambung aja ya…)

Comments (5)

CengLu

Beberapa waktu yang lalu, ketika UTS masih hangat-hangatnya ada hal aneh yang sempat menjadi kebiasaan. Saat itu, tiap pagi aku selalu pergi ke kos teman, yang lebih pintar, bernama yeni bersama seorang teman, yang juga lebih pintar dariku, bernama stefani (selanjutnya kita sebut dia cupank.hehehe) untuk belajar bersama. Keren sekali jika belajar bersama ini yang jadi kebiasaan. Sayangnya bukan itu. Dalam kamus perkuliahan kami, belajar bersama hanya terjadi dua kali dalam satu semester. Yaitu ketika UTS dan UAS. Walau hanya dua kali, kegiatan ini benar-benar menjadi kontribusi besar bagi nilai-nilai kami. Apalagi kini balajar bersama juga dimeriahkan oleh seorang kawan bernama vita (kok ga dari dulu ikutnya vit? :)

Kembali ke topik awal. Kebiasaan baru, yang bukan belajar belajar bersama itu, dicetuskan oleh ide gila cupank. Kami namai hobi baru itu CENGLU alias bonCENG teLU (bonceng tiga). Cenglu selalu terjadi setiap berangkat ujian. Tiga puluh menit sebelum ujian berlangsung, kami selalu menghentikan kegiatan mulia (belajar bersama) untuk bergegas menuju kampus. Jarak kos yeni dan kampus jika ditempuh dengan jalan kaki hanya sekitar sepuluh menit. Namun karena aku bawa motor, yeni dan cupank lah yang selalu berjalan kaki. Karena tak enak jika sampai kampus hanya sendiri, kupelankan motorku agar kami tetap sampai kampus dalam waktu yang sama.

Entah kenapa suatu hari sebelum berangkat, tiba-tiba cupank tersenyum licik di depanku. Ia bilang padaku bahwa ia mau aku bonceng. Namun yeni tak mau ditinggal. Masih dengan senyumnya, cupank meminta yeni ikut naik ke motorku. Awalnya aku sedikit ragu, takut kalau motorku tak mampu membawa kedua temanku itu. Yeni pun enggan karena ia masih mempertahankan imagenya, apalagi dia seorang aktivis organisasi muslim di kampus. Aku bisa memakluminya, bisa kubayangkan jika ia bertemu dengan juniornya, betapa malunya. Tapi rasa maklumku terkalahkan oleh ajakan cupank. Kurayu yeni agar mau ikut bersamaku dan cupank. Semenit berpikir, akhirnya yeni setuju.

Pelan-pelan kubawa motorku. Malu, takut, bercampur aduk dalam diriku. Mungkin naik motor bertiga itu hal biasa. Yang menjadi luar biasa (baca: aneh) di sini karena yeni yang berada paling belakang memakai rok sehingga ia harus dibonceng dalam posisi miring. Untung saja postur tubuh kami kecil, jadi motorku tetap muat. Karena itu pengalaman cenglu ku yang pertama, aku sangat malu. Maklum di situ banyak anak jurusan lain yang tak segan melempar senyum ketika kami lewat. Kupakailah slayer penutup mukaku (maksudnya biar tidak dikenali).

Dua teman di belakangku cukup bingung memikirkan cara agar tak malu, karena mereka tak bawa helm ataupun slayer. Dengan polosnya cupank yang berada di tengah menempelkan dagunya ke pundakku. Ketika kutanya alasannya. Ia bilang pura-pura pingsan (ia pikir jika tutup mata, takkan terasa malunya, Dasar cupank!! J). Hanya yeni yang tetap pada posisi semula, dia tak ada ide. Sehingga seakan-akan semua rasa maluku dan cupank dibebankan padanya.(maafkan kami mbakyu…)

Cenglu ini berjalan lancar selama beberapa hari. Namun, suatu hari terjadi hal yang membuat yeni keluar dari geng cenglu. Ketika sedang menikmati asyiknya cenglu menuju pos satpam di kampus Farmasi, tiba-tiba muncul motor lain di belakangku. Tak disangka si pembawa motor itu adalah salah satu petinggi organisasi muslim yang yeni ikuti (kalau tidak salah jabatannya sekjen). Aku sih cuek saja. Ternyata saat aku memarkirkan motorku, yeni mendapat teguran dari sekjennya. Entah wejangan apa yang yeni dapat. Yang pasti kini geng cenglu telah bubar, hanya tinggal aku dan cupank yang selalu siap menerima anggota baru. Walaupun begitu, kami tetap mengharapkan yeni kembali….

Comments (6)

perjalanan tilangku

Seumur hidupku dalam dunia permotoran, sekitar 6 tahun, aku baru 3 kali kena tilang. Dan ketiga-tiganya merupakan cerita unik (baca: aneh) bagiku. Kena tilang yang pertama, waktu itu bulan februari 2005 di magelang. Ceritanya, aku disuruh orang rumah untuk belanja keperluan karena di rumah ada acara (kalau tidak salah khitanan adekku). Berangkatlah aku bersama sepupuku naik motor. Dengan PeDe tanpa lihat surat-suratnya aku langsung tancap gas sekencang-kencangnya sebisaku (waktu itu sekalian pamer pada sepupuku bahwa aku juga bisa ngebut :) . Sampai di 2 traffic light masih aman dan terkendali. Apesnya, sampai pada traffic light ketiga lampu tepat berubah dari hijau menjadi kuning. Karena merasa masih kuning, rem tangan atau kaki tak kusentuh. Sayangnya setelah itu jalanan agak macet dan aku harus berjalan pelan-pelan. Tak disangka seorang polisi bermotor sudah berada di sampingku dan menyuruhku berhenti. Kontan saja aku kaget. Lha wong aku ngrasa nggak salah kok. Si Bapak itu memintaku mengeluarkan surat-surat permotoran yang meliputi SIM dan STNK. Tadinya si santai-santai saja. Tapi ternyata aku baru sadar bahwa hari sebelumnya motorku dipinjam ayah beserta STNKnya. Dan kalau tidak salah ingat, STNK masih tergeletak di atas kulkas di rumahku. Singkatnya, STNK motorku ketinggalan. Akhirnya si bapak polisi menyuruhku ke kantornya. Ditanya-tanya sekian menit aku mencoba membela diri bahwa lampu masih kuning. Si bapak mengalah. Lampu tak jadi soal lagi. Tapi STNK tetap jadi masalah. Aku kena tilang. Di pengalaman pertamaku ini aku tetap merasa dirugikan meski tau aku salah. Aku tak pernah menerobos lampu merah, hanya menerobos lampu kuning, namun polisi itu tetap mengejarku. Coba kalau ia tak mengejar, mana tahu dia kalau aku tak bawa STNK.

Tilang yang kedua terjadi di Jogja. Waktu itu masih jaman-jamannya padat praktikum. Satu semester bisa praktikum sampai lima kali (capek betul kalau ingat masa “indah” itu). Kalau tidak salah waktu aku semester 2. Setelah praktikum Biologi molekuler (nama bekennya ‘biomol’) yang super lama dan njlimet, aku berniat segera pulang ke kos. Maklum, hari sudah sore, jadi tak ada niatan untuk main-main. Sampai di parkiran depan unit 3 aku bertemu seorang teman, yang kini beda jurusan denganku, hendak pulang ke kosnya. Karena kosnya sangat dekat dengan kosku, hanya terhalang dua rumah, niat baikku muncul. Kuajak dia pulang bersama naik motor. Tak enak membiarkannya pulang sendirian sementara hari mulai gelap. Sayangnya aku hanya membawa satu helm dan itu pun kupakai di kepalaku sendiri. Kupikir kalau hanya dari kampus menuju kos, yang jaraknya hanya sekitar 2 km, tanpa helm tidak akan jadi masalah. Ternyata pikiranku hanya tepat jika traffic light dekat kampus menyala hijau saat kita lewat. Apesnya waktu kami sampai di sana. Lampu menyala merah. Dengan tenang (masih tenang) kami berhenti. Tiba-tiba dari pos polisi sebelah lampu (kejadian ini terjadi di perempatan MM, kami dari arah Farmasi hendak menuju selokan. Bisa dibayangkan?)muncul seorang polisi tanpa tutup kepalanya membawa peluit. Di pinggir jalan itu ia membunyikan peluitnya sambil mengacungkan jarinya. Kupikir orang di belakangku yang kena peluit. Ternyata aku sendiri yang diacunginya. Tiba-tiba gerakan tangannya berubah. Dari mengacungi mendadak melambai. Menyuruhku mendatanginya, sudah pasti untuk diinterogasi. Malu bercampur takikardi aku menuruti polisi itu. Di dalam pos polisi aku ditanya-tanya soal alasan temanku yang tanpa helm. Kujawab saja itu bentuk solidaritas pada teman. Sebenarnya aku agak tenang ketika ditanyai. Namun, temanku yang kubonceng malah menangis. Aku panik lagi. Bukan karena polisinya, tapi karena melihat temanku menangis. Ada sedikit penyesalan mengajaknya pulang bersama saat itu. Interogasi dengan derai air mata pun selesai. Akhirnya pak polisi memutuskan mendendaku sebesar 20ribu. Aku yang tak mau rugi masih sempat-sempatnya berstrategi agar uang yang kukeluarkan tak harus sebanyak itu. Sebenarnya di dalam dompet masih ada uang 50ribu yang kulipat kecil untuk menyambung hidup di jogja sampai akhir minggu, sedangkan uang yang tak kulipat hanya 17ribu. Kubilang saja uangku hanya tinggal 17ribu, kukeluarkan uang itu dan beberapa koin uang receh. Mungkin pak polisinya merasa trenyuh melihat uang kami yang tinggal “segitu”. Dia trima uang 17ribu itu dan mengembalikan receh-receh milikku. Intinya aku dapat diskon…hahaha…atau mungkin yang 3ribu rupiah telah tergantikan oleh airmata temanku itu.

Tips saat ketilang : jika harga airmata 1 orang= 3ribu rupiah, ajaklah 7 orang temanmu untuk menangis di hadapan polisinya, kamu akan dapat kembalian seribu rupiah. Selamat mencoba ^^

Tilang yang ketiga terjadi saat masa-masa “aneh” KKN sekitar bulan agustus. Saat itu aku baru saja menikmati pulang ke jogja dari tempat KKN yang sebenarnya juga masih di daerah jogja. Berniat kembali menunaikan kewajiban sebagai mahasiswa KKN, sebelumnya aku mengantar seorang sahabat yang lokasi KKN nya di daerah semarang. Aku mengantarnya sampai di terminal Jombor. Mungkin karena lama sekali aku tak masuk ke terminal itu dengan motor, agak sedikit bingung ketika harus keluar dari tempat itu. Asal saja aku berbelok ke arah aku masuk tadi, tak melihat kalau di pojok jalan terdapat tanda lalu lintas bulat merah berstrip putih di tengahnya (ternyata itu jalur satu arah!!). Tak jauh di depanku sudah berdiri seorang polisi yang sangat bersemangat memberhentikanku. Bingung, aku pun berhenti. Surat-surat motorku dimintanya dan aku digiring masuk ke pos polisi. Di dalam aku diinterogasi, ditanya-tanya hal yang tak penting. Saat ditanya aku mempraktekkan teori yang kudapat dalam mata kuliah konseling. Tampak serius memperhatikan, aku memposisikan sebagai seorang pretending alias hanya berpura-pura mendengarkan :p. Itu bukan mauku. Niatnya ingin benar-benar memperhatikan, menghargai orang saat bicara, namun hape di saku celanaku terus bergetar. Panggilan-panggilan terlewatkan dan beberapa sms memenuhi layar hapeku. Ternyata teman-teman satu sub unit yang menghubungiku, mengabarkan bahwa mereka menungguku di tempat makan untuk pulang bersama ke tempat KKN. Aku tambah bingung, selain harus menghadapi polisi di depanku, aku juga bingung karena tak ada pulsa untuk menghubungi teman-temanku. Nekat, aku ajak ngobrol polisinya sebentar lalu dengan PeDenya aku minta pulsa padanya. Agak sedikit heran polisi itu menatapku. Tapi hapenya tetap sampai ke tanganku. Kupencet-pencet tombolnya. Namun karena hape itu terlalu canggih buatku, ku minta polisi itu mengajariku menggunakan hapenya. Entah kenapa polisi itu mau saja melakukannya. Bahkan katanya aku tak hanya boleh sms tapi telepon jika nomor hape temanku itu satu operator dengannya. Ternyata saat menilang polisi pun masih mau berbagi ^^, saat ketilang bisa juga dapat bonus pulsa.. :D

Comments (12)

akhirnya bikin blog

jumat(19/9)

(balairung bangeeet)

saat praktikum infeksi,gara2 nunggu diskusi lama banget..ak iseng2 liat blog punya temen….ternyata ak nemu tulisan yang tiba2 membawaku ke masa 4 tahun yang lalu..pas di sma…jadi inget temen2,ak kangen….ga tau juga kenapa bisa terlintas di pikiranku “bikin blog aja lah…”

padahal klo dipikir apa sih hubungannya teman sma ma bikin blog (makanya ga usah dipikir :)

intinya teman smaku tadi menginspirasi untuk bikin blog….makasi kee-kee..

Comments (1)